Kejadian ini terjadi saat saya kecil tinggal dengan orang tua di sebuah kontrakan mungil 2,5 x 5 meter di daerah pondok bambu, Jakarta Timur.
Seperti biasa sepulang (sekolah) TK saya bermain-main dengan teman2 sebaya di depan kontrakan, krn memang ada cukup tanah lapang di depan jejeran kontrakan kami, dan ada juga sebuah pohon nangka besar yg kokoh berdiri di depannya.
Entah karena memang cukup besar sehingga lumayan meneduhi area kontrakan kami jadi tidak ditebang oleh kong Haji pemilik kontrakan atau karena ada alasan lain yg diluar nalar.
Meski memang sering di bilang angker oleh banyak orang, tp ya namanya juga anak-anak… Mana peduli dan cuek saja bermain tanpa mengindahkan pesan orang tua dengan sesekali berteriak-teriak riang gembira. Lupa Waktu sampai setengah adzan maghrib kami br selesai bermain, itupun krn masing-masing dr kami dipanggil ibu-ibu kami “… Pulang, Maghrib!!!”
“Byurrr!!!” Segar. Selesai mandi saya memandangi Ibu yang sedang shalat, dgn sesekali mencoba mencerna makna gerakan-gerakan yang dilakukannya. Seselesainya beliau dari shalat, kami selalu bercengkrama bersama dengan adik saya. Kami tertawa bersama sambil sesekali sampai terbahak. Dan sesaat itulah kali pertama saya (sadari) melihatnya.
Mukanya gelap, kasar, dan berlapiskan kain putih (yg saya sadari setelah dewasa adalah kain kaffan) dan terikat di atas kepalanya. Termangu memandangi saya tajam tanpa ekspresi dari balik jendela!!!
“Heiii!” Sontak Ibu menepuk saya yg sesaat kaku sekujur tubuh. Setelahnya saya cuma diam, langsung memeluk Ibu yg tidak sadar dgn apa yg terjadi. Dan segera tidur.
Hmmm… Apa gara-gara td saya buat kegaduhan di bawah pohon Nangka itu ya?!
Waaaakkkkk… Pocong!!!





