Hari Pertama sampai di puskesmas terasa seperti jatuh dari langit ke tempat antah berantah… Rekan yang setidaknya bisa diajak ngobrol (meski baru bersua jg sih) ternyata tidak langsung menetap di puskesmas, ia pulang dulu ke kota asalnya di Makassar untuk “mengurus” ini itu, lgan saya lihat dia juga belum bawa barang apa-apa. Sedangkan saya, bermodalkan tas ransel ukuran 100 liter dan sebuah backpack sudah mau nggak mau harus siap! Lagian mau lari kemana juga?!
Malam itu, sesampainya kami memang tidak ada penyambutan apa-apa, malah nampaknya mereka kaget kami datang. Mungkin dalam hati mereka “Mau-maunya dokter-dokter ini ditugaskan disini???” Tidak tahu saja mereka kalau dalam hati saya berkata “Apa yang ada dipikiran gue bisa sampai kesini???”
Anw, mereka yg menyambut saat itu adalah sekeluarga suster yang memang bertugas di puskesmas ini, minus suaminya yg sedang panen Sawit di 4-5 jam perjalanan lagi ke utara… Kepala puskesmas sebenarnya tinggal di sebelah, tetapi beliau sekeluarga jarang menempati rumah dinasnya di puskesmas ini.
Tidak lama kami bercakap-cakap seraya memperkenalkan diri, akhirnya rekan saya pergi kembali lagi bersama pak Supir F1 yang mengantarkan kami… Tibalah saatnya “perjuangan” ini dimulai.
Saya dipersilahkan untuk tinggal sementara di kediaman suster, menempati kamar anak laki-lakinya. Alhamdulillah mereka baik-baik semua… Sulit rasanya membayangkan bila saya yang orang asing ini tidak diterima dengan baik oleh mereka. Fiuhhhh… Untung saja di tengah kesederhanaan, jauh dari kemapanan, dan terasing dari kehidupan kota, masih ada orang-orang seperti mereka. Kalau nggak?! Mungkin saya harus tidur di emperan puskesmas yang gelap gulita… Hiiiiiiiii…
So, bagaimana tidur malam ini? Sudah pasti “Resah dan Gelisah… ”
Balik badan ke kanan, ke kiri.. Putar posisi, buka baju (Sumpeh Gerah Abis!!!), nungging, tengkurep, terlentang…
Astaghfirullah… Maafkan aku ya Allah, banyak (banget) ngeluh hambaMu ini.
Hooooaaaaa… Ayo Tidur!!!

















People should read this.