Sungguh tepat sekali rasanya peribahasa “sudah jatuh tertimpa tangga pula” disematkan kepada saya.
Bagaimana tidak, mendapati bahwa puskesmas tempat saya bertugas adalah salah satu puskesmas ter-Asing di Provinsi ini, dan puskesmas ini cuma pernah dijamah oleh 2 dokter sebelumnya, meski menurut cerita pernah ada dokter wanita yang bertugas disini dan sang dokter membawa serta keluarganya untuk tinggal di rumah dinas yang disediakan tetapi yang terjadi malah mereka “minggat” tanpa sebab di hari ke-2 bertugas di puskesmas ini! Jadi dokter yang satu ini tidak dalam hitungan saya.
Tidak aneh kalau kepala puskesmas dipegang oleh seorang bidan, bila situasi puskesmas sudah seperti ini alias “langka” dokter.
Well, yang saya mau ceritakan adalah semua kesulitan yang saya hadapi untuk menyesuaikan diri di tempat baru ini ternyata juga dilengkapi dengan bertepatannya musim kemarau menyapa daerah ini. Jadi ya, nikmat banget deh rasanya.
Meski puskesmas saya termasuk dekat dengan pantai, Oh iya sekitar 500 meter ke arah barat adalah sebuah Pantai yang terlukis Indah sekali! Nanti saya ceritakan lebih jelas mengenai Pantai ini. So, ulang lagi… Meski dekat dengan pantai bukan berarti kalau air itu mudah disini. Air adalah sesuatu yang sulit didapati di daerah kami.
Letak geografis di daerah pesisir pantai pada awalnya saya pikir juga berarti tidak akan ada masalah dengan air. Tapi ya ternyata saya salah. Karena tidak setiap penduduk disini bisa membuat sumur sendiri, di puskesmas kami saja misalnya, sumur hanya seperti hiasan. Isinya? Cuma genangan air seadanya di sumur yang mentok pada kedalaman 3 meter, yang tidak bisa diperdalam lagi karena ya mentok batu karang (Tanah disini masih didominasi bebatuan seperti karang dan kapur pada bagian sedimen dalamnya).
Saat ini sudah malam hari kedua, jujur saja saya belum mandi dengan “benar” hehehe… Secara air yang tersedia di puskesmas sangat-sangat terbatas dan sebenarnya mungkin tidak tepat untuk dibilang bersih (ini belum terbiasa saja teman, nantinya juga saya sudah kebal dengan kondisi ini). Teman sejawat yang dikemudian hari berkunjung dan menginap di puskesmas saya sampai rela tidak mandi selama 2 hari, karena sebelumnya saat saya sediakan air untuk mandi dia pikir itu “air bekas mengepel lantai!”. Kontanlah dia hanya menggosok gigi dengan air masak yang ada. (Tidak tahu saja dia kalau air masak itu sebenarnya saya masak dari air yang itu-itu juga! Hahahahaha… Sorry Bro!)
Yaaap… Akhirnya diajaklah saya oleh suami Ibu KaPus untuk mandi di kampung sebelah. Dengan menggunakan fasilitas mobil puskesmas yang ada, jalanlah kami menerobos kegelapan malam dan padatnya alang-alang di kanan kiri jalan menuju kampung Polo Pantai. Jaraknya tidak terlalu jauh dari kampung kami, cuma sekitar 500 meter ke arah barat (pantai) serta dipisahkan oleh hutan bambu dan padang ilalang.
Kampung Polo Pantai seperti namanya memang bersinggungan langsung dengan Pantai, so dinamakanlah Kampung ini dengan nama demikian.
Alasan suami KaPus mengajak saya ke Kampung ini karena di kampung ini ada satu sumber air yang biasa digunakan warga untuk mengambil air. Dan airnya biasanya jauh lebih ada dan “beradab” dibandingkan sumur lain. Tepatnya ada 2 sumur yang debit airnya selalu lumayan dan lebih jernih dibanding sumur-sumur lain yang ada, yaitu di tempat yg kami tuju ini dan sumur masjid.
Begitu kami sampai di sumber air yang dituju (yang memang milik seorang penduduk disini) saya langsung mencermati sekeliling sumur yang dimaksud oleh suami Ibu KaPus dengan lampu senter yg saya bawa, dan keherananlah mimik yang pertama tergambar dari wajah saya dan langsung bertanya-tanya dalam hati, hmmm… Tempatnya terbuka sekali ya?! Bagaimana cara mandinya?! Apa tidak ada yang mengintip ya?! (Meski siapa juga yang mau ngintipin?!)
Tapi memang kondisinya seperti itu, tempatnya tepat di tengah tanah agak lapang, tidak begitu banyak tanaman yang cukup tinggi di sekitarnya, meski memang tidak terlalu dekat dengan rumah penduduk. Tetapi memang benar-benar tidak ada apa-apa disekelilingnya yang bisa dijadikan “tameng” untuk menutupi prosesi mandi. Maka jadilah malam ini jadi pengalaman Gila pertama yang saya lakukan di Kampung ini! Keterpaksaan bisa membuat orang nekat teman
Hahaha… Iya, suami KaPus mempersilakan saya untuk mandi di sumur tersebut. Dan karena memang sudah gatal suGatal Berat, jadilah saya cuek secuek-cueknya mandi di bawah hamparan bintang-bintang di angkasa. Awalnya sih masih menyisakan celana pendek saja, lalu berlanjut hanya mengenakan “segitiga emas” saja, dan terakhir karena memang sudah nanggung juga maka kejadian deh mandi berbugil ria tanpa sehelai kain apapun di tengah kebun lapang dengan hanya ditemani bintang-bintang di langit.
Byurrr… Byaarrrr… (Nimba lagi) byurrr… Byarrrrr…. (Nimba lagi)
Byurrr… Byrarrrr…. (Tau dong lanjutannya?!)
Cuek ajalah, itulah yang ada di benak saya, secara saya juga tidak bisa melihat apa-apa disekeliling tempat saya mandi… Kecuali ke atas, ada remBulan yang tersenyum memandangi saya seraya berkata “Dasar orang kota, KAMPUNGAN!”*
*Orang desa boleh terlihat kampungan setibanya di kota, tapi temanku coba deh kalau kalian yg (merasa) orang kota datang dan menetap di desa, maka akan lebih terasa “kampungannya”.

















People should read this.
Very interesting site, but you must improve your logo graphics.
You post awsome posts. Bookmarked !