….Connection Nyambung!
“Dari pada pusing mikirin hasil pemilu, dan ngeliat berita caleg stress makin banyak mending nyambung lagi nyokkkk!!!”
Bismillahirrahmanirrahim…
Kira-kira waktu menunjukkan pukul 13.30 WITA, berangkatlah kijang kapsul tua warna putih yg mirip ambulance itu mengantarkan kami ke sebuah desa terpencil di utara kota Mamuju, Sulawesi Barat.
Perasaan campur aduk menghiasi perjalanan kami, terutama saya karena ini kali pertama lagi saya setelah 22 tahun menginjakkan kaki kembali di tanah Sulawesi. Karena di pulau besar huruf K inilah saya dilahirkan dan hanya sekitar 4 tahun tumbuh di pulau ini.
Perasaan galau memang jujur lebih mendominasi, karena bagaimanapun mantapnya tekad saya untuk bertugas tetap terus dibayangi perasaan khawatir yang berlebihan.. Sulit memang untuk berfikir positif disaat menginjakkan kaki di negeri asing, kenapa Asing? Karena meski saya lahir di Makassar, Kota Mamuju adalah (dulu) bagian ter-UTARA dari provinsi Sulawesi Selatan, daerah terujung ini secara geografis memang sangat “keras” sehingga memutuskan untuk membentuk pemerintahan daerah sendiri dengan membentuk provinsi Sulawesi Barat. Kira-kira butuh waktu 10-11 jam perjalanan darat (itupun harus malam hari dan naik bus malam yg supirnya berjiwa pembalap F1) kalau bisa menggambarkan jaraknya. Jadi yaa.. Memang Asing banget nih tempat buat saya..
Perjalanan yang penuh perasaan galau mulai bisa terobati saat keluar dari daerah kota Mamuju, jalur antar daerah yg rute-nya menyisir area pantai Lumayan membuat saya terkagum-kagum bercampur haru melihat pemandangan pesisir pantai yang virgin, rumah-rumah adat yang ternyata MASIH ADA. Sungguh menyindir perasaan saat saya melihat kesederhanaan yang masih terpampang luas disaat saya masih diliputi kegalauan karena sindroma anak Kota masuk Desa. Malu!!!
Pemandangan indah yang menemani perjalanan kami perlahan meredup seiring menepinya mentari ke peraduannya… Saat itulah rembulan mengambil alih, disertai sekawanan gemintang-bintang yang mendominasi kawanan cahaya. Di daerah ini ternyata belum semuanya terangkul nikmat aliran listrik…
Perasaan galau itu kembali menyeruak setelah hampir 5 jam kami tidak kunjung sampai di lokasi penugasan. Hingga akhirnya kendaraan keluar dari jalan utama dan berbelok ke arah jalan masuk yang tidak seperti jalan umum… Alang-alang setinggi 2 meter menghiasi kiri kanan jalan dan dari kedua sisi itulah sang Alang-alang menyisir kendaraan kami. Hmmm… Seperti tidak pernah ada kendaraan (mobil) yg pernah lewat di jalan ini. Jalanannya pun tidak lebih baik dari jalan utama provinsi yg hancur lebur, cuma jalan tanah, dan sesekali bebatuan… Dan guys, there is no proper light disepanjang jalan ini… Hanya sesekali cahaya redup (yang baru di kemudian hari di saat terang saya tahu kl itu berasal dr cahaya lentera penerangan).
Jalan masuk ini ternyata tidak cukup mendekatkan kami dengan lokasi puskesmas tujuan. Jalan yang tanah bebatuan seadanya dan 2 (dua) kali Pak supir harus menstel konsentrasi untuk melalui jembatan yg terbuat dari batang kelapa di tengah kegelapan (hanya dibantu cahaya dr lampu mobil) cukup menyita waktu kami.
Listrik!!!??? Tiba-tiba setelah sepanjang jalan hanya diselimuti kegelapan… Cahaya itupun terlihat, 2-3 buah lampu bohlam terlihat menyala, dan pak Supir pun menghentikan kendaraannya.
5 menit memandangi daerah sekitar, saya sadar akan ada banyak kejutan yang akan saya hadapi.
Tapi cukup dulu mengeluhnya, Alhamdulillah sudah sampai.



Kalau sudah begini, baru deh berasa nikmatnya Jakarta yang sumpek, berdebu dan penuh asap kendaraan