<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Saat yang dinanti (bag.2)</title>
	<atom:link href="http://www.indraprima.com/2009/04/saat-yang-dinanti-bag2/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.indraprima.com/2009/04/saat-yang-dinanti-bag2/</link>
	<description>buku catatan dokter gigi keliling</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Sep 2010 00:49:05 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<item>
		<title>By: melisa</title>
		<link>http://www.indraprima.com/2009/04/saat-yang-dinanti-bag2/comment-page-1/#comment-170</link>
		<dc:creator>melisa</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 10:01:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.indraprima.com/?p=23#comment-170</guid>
		<description>Amin Yaa Allah.. jazakallah khoir ya akhi..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Amin Yaa Allah.. jazakallah khoir ya akhi..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: doc</title>
		<link>http://www.indraprima.com/2009/04/saat-yang-dinanti-bag2/comment-page-1/#comment-168</link>
		<dc:creator>doc</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 16:01:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.indraprima.com/?p=23#comment-168</guid>
		<description>@melisa:
Assalamuallaikum Ukhti, senang rasanya bisa berbagi dan menjadi lebih senang seorang teman datang dan berbagi disini.

Jujur saya sangat terharu membaca kisah ini, antara sedih dan senyum mengetahui ketabahan seorang Ibu. Karena entah apa yang mungkin saya rasakan bila saya harus menghadapi cobaan yang sama, apakah saya bisa menghadapinya seperti yang teman hadapi. Tidak banyak yang bisa seperti ini temanku.

Alhamdulillah ukhti bercerita mengenai hal ini, sebuah pelajaran berharga bagi saya dan keluarga. Salam saya untuk keluarga semua, sekali lagi terima kasih atas kisahnya yang bisa membuat saya lebih menghargai apa yang saya miliki sekarang. Doa kami untuk (alm.) Rafif, dan kesehatan bagi ukhti dan keluarga semua.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@melisa:<br />
Assalamuallaikum Ukhti, senang rasanya bisa berbagi dan menjadi lebih senang seorang teman datang dan berbagi disini.</p>
<p>Jujur saya sangat terharu membaca kisah ini, antara sedih dan senyum mengetahui ketabahan seorang Ibu. Karena entah apa yang mungkin saya rasakan bila saya harus menghadapi cobaan yang sama, apakah saya bisa menghadapinya seperti yang teman hadapi. Tidak banyak yang bisa seperti ini temanku.</p>
<p>Alhamdulillah ukhti bercerita mengenai hal ini, sebuah pelajaran berharga bagi saya dan keluarga. Salam saya untuk keluarga semua, sekali lagi terima kasih atas kisahnya yang bisa membuat saya lebih menghargai apa yang saya miliki sekarang. Doa kami untuk (alm.) Rafif, dan kesehatan bagi ukhti dan keluarga semua.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: melisa</title>
		<link>http://www.indraprima.com/2009/04/saat-yang-dinanti-bag2/comment-page-1/#comment-167</link>
		<dc:creator>melisa</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 05:52:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.indraprima.com/?p=23#comment-167</guid>
		<description>wah, umur dedek aisha udah 1 thn 4 bulan skrg ya..

perkenalkan saya melisa, 26 tahun
tgl 10 juli kmrn saya melahirkan putra pertama saya, Rafif, tapi hari itu juga dia dikembali lagi kepada pemiliknya. Innalillahi wainnailaihi Roji&#039;un..

sore itu, sehabis sholat ashar, tanpa ada rasa sakit, darah menyembur keluar. di RS, denyut jantung bayi saya di periksa oleh para perawat, masih ada.. tapi melemah. beberapa saat kemudian, seorang dokter anak datang, kembali memeriksa denyut jantung bayi, kali ini sangat lama mencarinya, tapi nggak ketemu.. saya menjadi sangat-sangat khawatir, tapi juga sangat pasrah. kemudian saya di USG, untuk melihat jantung bayi, masihkah berdetak?

setelah melihat jantungnya diam tak bergerak, saya langsung di bawa ke ruang operasi.

dokter bilang bayi saya kekurangan oksigen. terlalu banyak penjelasan dan pertanyaan, sampai saya lupa menanyakan apa penyebab bayi kekurangan oksigen, padahal lahir cukup bulan (9 bulan kurang 1 hari). dan darah yang keluar itu apa?
ketika saya menceritakan kronologis kejadian dengan dokter lain (waktu itu saya pulang ke rumah orang tua), dokter itu mengatakan kalau bayi saya kekurangan oksigen, dan darah yang keluar itu bercampur dengan air ketuban.. tapi saya melihat sendiri darah yang keluar berwarna merah (benar-benar &#039;pure&#039; darah) dan banyak, sangat banyak. tapi dokternya g percaya, katanya kalau memang darah, pasti saya transfusi (saya nggak ada transfusi), kalau darah itu dari plasenta, knp saya nggak ada merasa sakit..

ketika pemeriksaan kehamilan plasenta saya memang letaknya agak dibawah sebelah kanan, tapi menurut dokter nggak menghalang jalan lahir.

insyaAllah saya ikhlas Rafif pergi, bayi paling indah yang pernah saya lihat, &quot;cantik&quot;, putih, bersih, beratnya 3,4 dan panjangnya 49, dan baunya wangiii sekali. alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk melihat dan menciumnya (keluarga sempat ingin merahasiakan bayi saya meninggal, padahal saya sudah tahu sebelum operasi)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah, umur dedek aisha udah 1 thn 4 bulan skrg ya..</p>
<p>perkenalkan saya melisa, 26 tahun<br />
tgl 10 juli kmrn saya melahirkan putra pertama saya, Rafif, tapi hari itu juga dia dikembali lagi kepada pemiliknya. Innalillahi wainnailaihi Roji&#8217;un..</p>
<p>sore itu, sehabis sholat ashar, tanpa ada rasa sakit, darah menyembur keluar. di RS, denyut jantung bayi saya di periksa oleh para perawat, masih ada.. tapi melemah. beberapa saat kemudian, seorang dokter anak datang, kembali memeriksa denyut jantung bayi, kali ini sangat lama mencarinya, tapi nggak ketemu.. saya menjadi sangat-sangat khawatir, tapi juga sangat pasrah. kemudian saya di USG, untuk melihat jantung bayi, masihkah berdetak?</p>
<p>setelah melihat jantungnya diam tak bergerak, saya langsung di bawa ke ruang operasi.</p>
<p>dokter bilang bayi saya kekurangan oksigen. terlalu banyak penjelasan dan pertanyaan, sampai saya lupa menanyakan apa penyebab bayi kekurangan oksigen, padahal lahir cukup bulan (9 bulan kurang 1 hari). dan darah yang keluar itu apa?<br />
ketika saya menceritakan kronologis kejadian dengan dokter lain (waktu itu saya pulang ke rumah orang tua), dokter itu mengatakan kalau bayi saya kekurangan oksigen, dan darah yang keluar itu bercampur dengan air ketuban.. tapi saya melihat sendiri darah yang keluar berwarna merah (benar-benar &#8216;pure&#8217; darah) dan banyak, sangat banyak. tapi dokternya g percaya, katanya kalau memang darah, pasti saya transfusi (saya nggak ada transfusi), kalau darah itu dari plasenta, knp saya nggak ada merasa sakit..</p>
<p>ketika pemeriksaan kehamilan plasenta saya memang letaknya agak dibawah sebelah kanan, tapi menurut dokter nggak menghalang jalan lahir.</p>
<p>insyaAllah saya ikhlas Rafif pergi, bayi paling indah yang pernah saya lihat, &#8220;cantik&#8221;, putih, bersih, beratnya 3,4 dan panjangnya 49, dan baunya wangiii sekali. alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk melihat dan menciumnya (keluarga sempat ingin merahasiakan bayi saya meninggal, padahal saya sudah tahu sebelum operasi)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
