Hampir 2 bulan penuh saya diuji, Kejadian demi kejadian aneh-pun mulai saya alami sejak kedatangan saya di Puskesmas ini. Meski mulanya biasa saja…
Hanya semalam menempati rumah suster keesokan harinya Ibu KaPus tiba di Puskesmas (mungkin baru diberitahu pihak dinkes kalau ada dokter yang datang), dan Kepala Puskesmas mungkin karena perasaan tidak enak dengan saya langsung menawarkan untuk tinggal sementara di rumahnya.
Setelah hari pertama orientasi di klinik, akhirnya sayapun pindahan ke rumah sebelah milik Ibu KaPus dan keluarga. Selain Ibu KaPus, suami Ibu juga adalah orang yang sangat baik, beliaulah yang nanti membantu saya mem-”bedah rumah” rumah dinas dokter yang selama ini terbengkalai. Suami Ibu KaPus juga bekerja di Puskesmas sebagai pengurus administrasi, posisinya di puskesmas yang lebih rendah dari Ibu mengesankan kalau pada kehidupan sehari-haripun beliau selalu di bawah bayang-bayang Ibu. Tetapi semua itu tidak menjadi concern buat saya dan tidak perlu juga saya bahas, karena yang saya tahu mereka adalah orang-orang yang baik. Dan sekali lagi saya bersyukur akan hal ini.
Saya menempati kamar yg kurang lebih posisinya sama dengan saat saya tinggal di rumah suster (maklum rumah dinas semua modelnya sama). Cuma memang kamar ini agak berbeda, tidak ada yang menempatinya sebelumnya, biasanya hanya digunakan untuk menyimpan barang-barang yang tidak terpakai alias gudang.
Tapi yang lebih mengasyikan adalah di rumah ini ada televisi!!! Memang sempat buat saya terkagum-kagum karena bisa menemukan tayangan “sinetron” di tengah antah berantah seperti ini… Dan baru saya sadari kalau sudah umum bagi sebagian yang “punya” di daerah-daerah terpencil seperti ini menggunakan fasilitas parabola untuk bisa terhubung dengan kehidupan luar, meski di lain waktu saya menyadari bahwa hal inilah yang “memperkeruh” kesenjangan sosial di bangsa ini.
Parabola, ya parabola! Mungkin sekarang sudah tidak umum lagi di telinga sebagian orang, secara jaringan televisi gratis dan langganan sudah merajalela. Fasilitas ini membuat saya sedikit lebih tersenyum karena setidaknya ada wajah-wajah artis ibukota yang menemani, dan menjadi satu-satunya yang tidak asing buat saya, padahal kenal juga nggak! Dan saya (maaf) sangat tidak suka Sinetron!!!
Listrik? Listrik adalah masalah lain, puskesmas kami memang cukup aneh, posisinya yang TIDAK dekat dengan pemukiman masyarakat membuat saya meragukan keefektifan fungsinya, bayangkan saja rumah warga terdekat dari puskesmas kami berjarak paling tidak 300 meter (kecuali rumah orang tua suster yang tepat di sebelah puskesmas), itupun tidak terlihat langsung karena di sekeliling puskesmas di dominasi hutan bambu, pohon-pohon besar, dan semak belukar. Itupun hanya 1 rumah, ya rumah itu saja… Yang lain masih terpisahkan jarak paling tidak lebih dari 500 meter ke berbagai arah. Tetapi dari rumah warga “terdekat” inilah kami mendapatkan sumbangan aliran listriknya di beberapa malam.
Sumbernya adalah Generator listrik yang mereka miliki. Sang empunya memang cukup dikenal sebagai saudagar ikan, selain memiliki anak buah yang mencari ikan di laut setiap harinya untuk dijual, empangnya pun tersebar dimana-mana sehingga dominasinya pun kental di daerah ini. Anw, saya memang tidak mengenal dekat beliau, tetapi itu sudah cukup bagi saya untuk mendoakan atas kebaikan beliau.
Ya, beberapa malam dalam seminggu kami memang mendapatkan sedikit penerangan. Biasanya mulai jam 7 sampai jam 9 malam (ya memang cm 2-3 jam saja). Tapi ya tidak juga bisa berharap setiap hari, paling tidak setiap akhir-akhir minggu suasana kelam di puskesmas pd malam hari bisa teredam. Yang sulit apabila sedang hujan deras atau angin kencang, otomatis aliran listrik akan diputus, karena memang riskan sekali, alirannya cuma di alirkan melalui beberapa sambungan kabel merah-hitam biasa yang disangga dengan beberapa bambu agar posisinya bisa lebih tinggi. Jadi tidak aneh bila terkadang di saat menyala pun bisa terputus tiba-tiba, bisa karena angin, burung-burung yg hobi bertengger di bambu sanggaan, atau bahkan lutung dan babi hutan yang tidak sengaja membuyarkan bambu-bambu sanggaan. Dan biasanya baru keesokan harinya kami bisa perbaiki karena memang karena alasan tertentu tidak banyak orang yang berani keluar malam di kampung ini, kecuali terpaksa.
Malam ini, malam kedua saya di desa ini, akhirnya harus kembali lagi mencoba tidur di hari yang masih dini, dan teteup dalam kegelapan! Sangat gelapnya, sehingga tidak mudah membedakan antara menutup mata dan membukanya… Tetapi ada yang beda pada malam ini, kegelisahan saya tidak terpaku pada panas dan kegelapan, tetapi juga pada sesuatu yang nampaknya terus “mengamati” saya.
Sesuatu yang tidak mudah dijelaskan, dilukiskan, bahkan dilihat…
















