Senin, 18 Mei 2009. Pagi hari setelah kemarin mengadakan pengajian untuk putriqu Aisha, badan masih belum mau beranjak dari tempat tidur. Untungnya istri kekeuh membangunkan suaminya yang malas banget bangun ini, apalagi setelah kemarin seharian menyambut banyak rekan dan kerabat. Capek, but life must go on…
Setelah sempat bingung bagaimana caranya menuju daerah kota (dari depok) agar biar nggak perlu pagi-pagi buta akhirnya diputuskan untuk parkir mobil di tempat praktek di daerah kemang untuk selanjutnya menggunakan BUSWAY menuju lokasi siaran.
Berangkat bisa mundur 1 jam dari jam biasa saya berangkat, dengan konsekuensi perjalanan yang pasti bakal terhambat akibat sudah menumpuknya pengguna jalan yang lain. Tetapi, perkiraan waktu saya rasa sudah tepat sehingga saya bisa sedikit santai daripada harus “kejar-kejaran” dengan jadwal “3-in-1″, berusaha menikmati kemacetan mulai dari Margonda Raya memang ternyata sulit, salut deh buat para pengguna jalan yang tiap pagi harus menahan emosinya menghadapi ruwetnya jalan. Saya sendiri hampir saja “MENGHAJAR” seorang pengendara motor yang Masya Allah sangat menyebalkan, sehingga setelahnya tidak berhenti saya mengucap istighfar sepanjang jalan sampai ke kota. Bagaimana tidak menyebalkan, di tengah upaya “menikmati” jalan yang macet dan padat tiba-tiba saja kendaraan saya tertabrak cukup keras (sehingga kendaraan saya yang sedang diam jadi terdorong maju) oleh motor dari samping-belakang, dengan sebelumnya menabrak motor di sebelah saya juga.
Kontan sang pengandara motor di sebelah saya mengamuk dengan menggunakan kata kasar, dan saya (maaf) jadi mengamini karena bagaimana tidak kesal, kondisi saat itu kendaraan sedang berhenti (karena macet) kok bisa-bisanya dia menabrak. Masalahnya tidak selesai sampai disitu, setelah ditegur keras oleh pengendara motor di sebelah saya yang juga tertabrak, si penabrak malah cuma senyum-senyum dan TANPA SEDIKIT PUN MENGELUARKAN KATA MAAF, malah yang keluar adalah kata “ayooolahh maju cepat, macet nih jalan!”. Hingga akhirnya hal ini mengundang emosi saya, saya pun membuka kaca dan menegur keras juga si penabrak dengan berusaha sehalus mungkin “Mas kalau jalan hati-hati dong, inikan lagi macet kok bisa-bisanya anda nabrak!” tapi Masya Allah sungguh mengesalkan mendengar kata yang keluar dari mulutnya “Haalaaahhh, siapa yang nabrak… cuma nyenggol doang, sudah ayo maju, macet nih!”. WOW!!! saya tidak sangka kata itu akan keluar dari mulutnya, saya tidak mau memperpanjang masalah di tengah kemacetan, sehingga karenanya saya hanya membuka kaca dan menegurnya, saya pikir dengan sedikit kata “Maaf Pak, tidak sengaja” atau sejenisnya sudah cukup untuk menyelesaikan masalah. Tetapi kenyataannya…
Tidak tahu apa yang terjadi dengan kebanyakan orang sekarang ini, bangsa ini seperti sudah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang ramah, pantas bila seorang teman dari LUAR pernah bilang kepada saya bahwa “Indonesia actually is a BIG country (“big” dalam pengertian Besar/Hebat bukan LUAS), but what happen is your own people makes it LOWER). Saya tidak pernah menganggap ini sebagai hinaan, karena saya kenal betul kalau memang seperti itulah mereka, mereka kritis dan lebih terbuka, selain saya sadari ya memang seperti itulah kenyataannya.
Terlalu picik memang kalau menghubungkan sikap si penabrak tadi dengan kerusakan bangsa ini, tetapi saya yakin tidak cuma saya yang punya pengalaman seperti ini. Dan bila semua pengalaman seperti ini kita gabungkan, mungkin itulah cermin kehancuran bangsa kita sekarang. (maaf) DAMN is it too HARD to say “Maaf” bila memang kita salah?!. Terkadang kita terlalu banyak menuntut akan perbaikan serta selalu merasa tidak beruntung dan dirugikan TANPA pernah mau merasa bila kita merugikan orang lain. Inikah cermin masyarakat Indonesia kebanyakan?!, karena ada juga riset yang meneliti tentang jati diri bangsa melalui keruwetan lalu-lintasnya, serta para pengguna jalannya (sorry, lupa sumbernya). So? wajar dong bangsa kita terpuruk?!
Tidak PESIMIS, tetapi sedikit MIRIS, sehingga agak agak APATIS menghadapi para pengemudi/pengendara EGOIS
hehehe… untung ada BUSWAY, setelah parkir kendaraan di Kemang, lanjut aja naik TRANSJAKARTA ini ke arah kota… nggak kebayang apa lagi yang akan saya hadapi di jalanan kalau terus menyetir sendiri sampai Kota, takut ada kejutan lagi dan nggak bisa nahan emosi, bisa gawat siaran Edukasi Pagi dengan hati Membara!
*Astaghfirullahaladzhim…
















