Setelah hampir 2 (dua) minggu berperan sebagai “Mantri” akhirnya rekan saya si Dokter Umum sesungguhnya tiba juga di puskesmas kami. Seru, rekan saya membawa serta orang tuanya dan seorang pembantu rumah tangga untuk menemani dia tinggal sementara di Puskesmas kami. Bertambahnya jumlah “personil” di puskesmas ini sudah saya perkirakan bakal menambah “keseruan” lain di lingkungan yang tadinya “mati” ini. Sederhananya buat saya, “Asyik Rame!!!” Hehehehe… Dan pastinya terlepas dari jabatan sementara saya sebagai “mantri”
Kesempatan ini saya gunakan untuk meminta izin kepada kepala puskesmas agar saya bisa kembali ke kota untuk beberapa hari, bukan karena ingin kabur, tetapi agar saya bisa mengurus pengadaan alat kedokteran gigi di puskesmas. Dan satu-satunya cara adalah dengan menghadap langsung Kepala Dinas Kesehatan Propinsi tempat saya bertugas.
Setelah mendapatkan izin dari kepala puskesmas, keesokan harinya, pagi-pagi sekali saya berangkat ke kota dengan diantar Bapak Rasyid (Suami Ibu KaPuskes) menggunakan kendaraan operasional Puskesmas a.k.a ambulan. Kendaraan yang biasa cuma mengantar kami bolak-balik mengambil air ini akhirnya mengeluarkan tajinya dengan menerobos keluar kandangnya hingga sampai di kota. Kira-kira rasanya seperti naik angkot kijang warna biru dengan suspensi yang nyaris tak terdengar alias sudah mati, mengarungi jalan propinsi yang tidak layak disebut jalan, apalagi jalan utama! Capek, tetapi Alhamdulillah sampai juga.
Singkatnya setelah menghadap kepala dinas, saya mendapatkan surat kuasa untuk mampir ke setiap puskesmas utama yang memiliki pelayanan kesehatan gigi dan “meminjam” beberapa alat utama. Tapi kami harus menginap dulu semalam di ibukota, seperti ceritaku sebelumnya teman, cuma segelintir yang berani jalan malam melalui jalan propinsi. Lebih baik kami cari aman.
Keesokan harinya, juga pagi-pagi sekali kami pun berangkat. Mampir di beberapa puskesmas besar propinsi dan meminjam beberapa alat ternyata cukup memakan waktu, sekali lagi memang waktu habis hanya untuk di jalan. Berbekal beberapa pinjaman alat yang saya rasa sudah mumpuni, maka kami langsung meluncur pulang.
Setibanya kami hari sudah semakin gelap, matahari sudah menyisakan anak cahayanya yang membaur di langit, intinya sendiri sudah tak terlihat. Sepoi-sepoi angin berhembus membawa alunan suara adzan maghrib, saya bersyukur bisa sampai dengan selamat dan masih bisa mendengar panggilan menuju rumah-Mu.
PeDe dengan apa yang sudah saya bawa, maka dengan lantang saya ucapkan dalam hati “Besok saatnya beraksi!”

















camera on, aaaand action!