Hari itu adalah sehari setelah semalaman hujan angin yang kencang, sehingga malam itu dipenuhi dengan kegelisahan yang sangat. Aneh, hujan seperti semalam semestinya disertai petir. Tetapi justru hanya angin kencang yang mendominasi menyambar-nyambar ranting pepohonan dan tembok darurat di kamar saya yang dibuat dengan seng dan papan triplek sehingga menimbulkan suara yang sangat gaduh.
Pagi hari ini, kali pertama saya bertugas di puskesmas. Setidaknya itu yang awalnya saya bayangkan. Tetapi ternyata hari ini saya belum bisa melakukan apa-apa juga… Karena sungguh aneh kenapa kepala dinas menugaskan saya ke tempat yang sama sekali tidak memiliki peralatan pendukung dokter gigi. Helloowww…???
Yap, jadilah saya beralih profesi jadi dokter umum untuk sementara, hmm mungkin lebih tepatnya mantri. Lho kenapa bisa begini? Ingat kisah kedatangan saya waktu itu?! Rekan saya yang dokter umum yang seharusnya bertugas disini bersama saya belum tiba juga, padahal sudah beberapa hari sejak dia pulang saat itu.
Ingat teman, pemahaman di desa belum sama dengan di kota. Mereka berfikir kalau semua dokter itu ya sama, padahal “dr-with-g” dan “dr-saja” itu kan beda banget!! Jadi maafkan saya rekan sejawatku dokter umum kalau saya sedikit memberanikan diri memposisikan diri sebagai mantri
karena kl jd dokter gak mungkin!
Saya harus berinisiatif karena warga desa sudah kadung mengetahui bahwa ada dokter yang datang, dan percayalah teman bila anda melihat antusias mereka kalian pasti setuju dengan saya. Karena saya tidak mungkin menjatuhkan harapan masyarakat desa yang sudah begitu semangat datang ke puskesmas untuk berobat. Momen seperti ini jarang terjadi, karena memang sudah lama sejak kedatangan dokter di desa ini. Well, andai setiap anggota DPR tidak duduk santai di Senayan tetapi ditempatkan di setiap pelosok desa terpencil seperti ini, mungkin mata mereka akan sedikit terbuka untuk memberi perubahan yang lebih baik.
Akhirnya dibantu dengan para pegawai puskesmas lainnya kami pun mulai menerima pasien satu persatu. Perlu diingat bahwa saya hanya mengobati setiap gejala simptomatis dari pasien saja, tindakan invasif dan kasus spesialistik saya tunda hingga kehadiran rekan saya nanti. Saya tidak seNekat itu teman untuk melakukan hal di luar kompetensi saya.
Untuk pasien, dengan kasus serius dan tidak saya pahami terpaksa saya tunda pengobatannya dan saya berikan obat mujarab! Eiittt! Bukan sembarangan lho ya… Tapi sementara saya berikan Vitamin dulu dan tentunya sugesti-sugesti sehat yang biasa diberikan oleh dokter untuk membantu kesembuhan pasien.
Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 12 siang, warga yang datang untuk berobat sedikit demi sedikit sudah mulai berkurang. Setelah tidak ada lagi pasien yang menunggu, ibu suster mengajak saya untuk berkumpul bersama dengan pegawai lainnya untuk makan singkong rebus di belakang puskesmas. Percaya deh teman, singkong rebus di desa itu jauhhhhh lebih Nikmat!
Tetapi sebelumnya, saat saya merapikan ruangan sebelum beristirahat tiba-tiba datang seorang kakek tua yang ternyata adalah Sang Tetua Desa. Saya pikir beliau ingin berobat sehingga saya mempersilakannya untuk masuk, tapi ia diam seribu bahasa dan sesekali tersenyum kepada saya. Dan kira-kira seperti inilah dialog yang terjadi antara sang kakek dengan saya (aslinya sih dialek sulawesi)
“Selamat datang dokter, maaf bila kedatangan saya agak terlambat” Ucap sang kakek.
“Terlambat untuk apa pak?” Tanya saya dgn penuh penasaran.
“Seharusnya saya bisa lebih awal memperingkatkan dokter tentang apa yang biasa terjadi pada pendatang baru disini, saya yakin semalam dokter mengalami sedikit gangguan menjelang tengah malam… Itu biasa terjadi dok, biasanya hanya orang-orang yang berniat baik yang bisa melewati cobaan sampai beberapa bulan ke depan. Dan saya yakin dokter punya niat baik datang kesini, saya permisi dulu…”
Tidak sempat saya bertanya banyak, kakek itu pun pergi… Sementara saya masih sedikit termangu sampai salah seorang pegawai puskesmas mengagetkan saya.
“Dok, Ayo kita makan rujak!!!”
















