Setelah perjalanan melelahkan berburu forcep atau tang gigi dan peralatan dokter gigi lainnya kemarin, akhirnya hari ini saya bisa memulai tindakan yang semestinya
hehehe…
Pasien hari ini memang tidak banyak (banyak disini paling 5-7 pasien, maklum temans… di desa terpencil seperti ini akses sangat sulit), karena memang selain belum semua dari masyarakat yang tahu bahwa akhirnya alat-alat dokter giginya sudah tersedia, mungkin sebagian juga terlanjur kecewa lantaran pada saat pertama mereka datang saat itu pelayanan giginya terpaksa ditiadakan. Padahal asal kalian tahu teman, area cakupan puskesmas kami cukup luas untuk ukuran puskesmas yang di-ter-abaikan ini, dan kurang mumpuni ini. Sebagian terpisahkan muara sungai dan anak-anaknya yang cukup rawan (buaya disini gawat kawan, nanti saya ceritakan di kesempatan lain), sebagian terpisahkan rawa-rawa, dan hutan yang nantinya setelah beberapa bulan di puskesmas ini saya baru sadar, “Lho ini masih daerah pelayanan puskesmas Polocamba?!”.
Tetapi terlepas dari banyak tidaknya pasien, saya sangat menikmati peran saya disini, bisa membantu banyak orang dan memberikan pelayanan kesehatan yang (untungnya) Gratis.
Hari ini seperti sudah sengaja dirancang yang Maha Kuasa menjadi awal pembuka pelayanan Kesehatan Gigi yang berkesan buat saya, mungkin Tuhan sudah melihat keraguan saya jadi diberilah hiburan yang canggih di sesi pertama ini!
Pasien hari pertama ini yang saya ingat cuma 3 orang deh kayaknya, tetapi setidaknya ada 1 pasien yang tidak mungkin saya lupakan seumur hidup saya.
Dengan ragu-ragu sang Ibu Muda(yang kira-kira 25-28 th-an lah usianya) memasuki ruangan saya, perlu diingat teman bahwa tempat saya bekerja tidak tertutup, pintu dan jendela terbuka dengan luas, sehingga siapapun bisa melihat adegan-adegan seru yang jarang atau mungkin belum pernah dilihat seumur hidup mereka, Yaitu adegan “SADIS” sang dokter gigi! Hehehe setidaknya itu yang terlihat di mata mereka saat memandangi adegan mengerikan yang saya lakukan.
Sang Ibu Muda tidak datang sendirian, dia ditemani anaknya yang masih kecil, anaknya tampak takut memandangi saya (aneh kali ya gue?!) sehingga langkahnyapun terhenti tepat di depan pintu, tidak berani masuk tetapi teteup juga bersama beberapa pasang mata mata lainnya dengan penasaran terus mengamati apa yang akan terjadi dengan ibunya. Iya temans, banyak sekali yang “menonton” pertunjukan “sulap” (now you see, now you don’t! Alias cabut gigi yaaa…) ini!
Setelah berbincang sedikit dengan si Ibu dan memperhatikan dengan seksama apa kira-kira yang jadi masalah, maka saya simpulkan dengan jelas “Gigi-nya harus diCABUT bu!”
Sedikit kaget, tetapi nampaknya Ibu muda ini sudah membulatkan niatnya sejak dari rumah tadi. Dia pun siap, maka saya posisikan bangku si Ibu agar menghadap keluar pintu, ini memang harus dilakukan agar saya bisa mendapatkan cahaya temans, kalau ingat cerita saya sebelumnya memang di tempat kami belum ada listrik, jadi cahaya Murni dari Yang Kuasa-lah yang membantuku agar tidak salah cabut gigi. Sekaligus biar kena angin, gerah kali yee..
Setelah saya memposisikan si Ibu di tempat duduk (bukan dental unit ya, tapi bangku seperti bangku sekolah biasa) maka saya pun mempersiapkan alat-alat yang akan saya gunakan, dan sebelumnya saya mulai berpesan “saya suntik dulu ya bu biar gak sakit”, dan si Ibu pun mengangguk dengan sedikit senyuman tanda mengerti.
Lalu saya membalikkan badan dari sang Ibu untuk mempersiapkan jarum suntik (biasa dokter memalingkan diri dari pasien agar pasien tidak nervous melihat jarum suntik saat dipersiapkan), setelah semuanya siap, 1 Ampul Lidocain sudah masuk penuh di Spoit, maka saya menghadap ke pasien saya kembali sambil berkata “saya suntik ya bu!!!”
Tetapi betapa kagetnya saya melihat pemandangan “tidak wajar” di depan mata saya sehingga jarum suntik yang ada di tangan saya jatuh terlempar tidak sengaja. Saya sontak tertawa hampir terbahak (sambil berusaha menutup mulut) melihat keadaan si Ibu yang sudah berdiri membelakangi saya dengan memelorotkan celananya! (Maaf ya Bu bukan maksud mentertawakan Ibu, ini murni Spontan.. Uhuy!!!).
Hihihi… Antik memang karena mungkin dia pikir kalau cabut gigi itu ya suntiknya di pantat juga??? Dan semua orang yang memperhatikan akhirnya satu persatu ikut tertawa dan sebagian tersenyum-senyum ikut malu, seperti si Ibu yang jadi beneran malu karena terlanjur mempertontonkan (maaf) pantatnya ke diriku.
Yaaahhhh… Terlanjur kebuang jarum suntiknya Jadi ulang lagi deh semuanya… Well, yang penting Alhamdulillah… Anaknya lahir dengan selamat! Eh maaf, maksudnya giginya tercabut dengan sukses.
*Dalam hati, mimpi apa ane semalam ngeliat “pemandangan empuk” pagi-pagi begini… Fiuhhh, well rezeki

















Lumayan… biar segeerrr
Great info, thanks for useful article. I’m waiting for more