Lovely Aisha, one thing that always push me to the limit.
Archive for June, 2009
Fiuhhh…
Yap… dimulai dengan “keluhan” di awal post ini. Sebenarnya tidak ingin banget sih mengeluh di awal pagi hari terutama bila sedang bersama istri dan anak yang kebetulan sekali pada hari ini (Rabu 17 Juni 2009) ingin ikut serta menemani aktivitas suaminya ini. Rencana ingin terus “window shopping” setelah kegiatan rutin pagi saya hampir saja buyar gara-gara emosi saya terusik dengan kemacetan yang luar biasa di pagi ini.
Iya Teman, bila dalam kondisi genting dan mengejar waktu sementara ada saja hambatan entah itu di jalan atau berupa apa saja maka bukan tidak mungkin emosi akan mengambil alih (meski saat semuanya berlalu akan disadari kalau emosi tadi sangat tidak bijaksana=ini terbukti bung!!!). Pagi ini memang benar-benar tidak terduga, saya bisa yakin semua orang yang tinggal di daerah depok dan sekitarnya dan menuju jakarta pada pagi hari ini Rabu 17 Juni 2009 akan merasa KESAL!!!. Bagaimana tidak saya biasa jalan jam 5.30 pagi untuk bisa sampai di lokasi kerja sekitar jam 7an paling telat jam 7.30 pagi. Tetapi hari itu semua benar-benar dahsyat…
Sore ini datang ke klinik agak telat karena ada kesibukan di kemang. Tetapi nggak masalah juga karena pasien janji sudah mengabarkan kalau akan datang telat, So… santai sedikit.
Sempat tidak memperdulikan surat kabar yang dipersiapkan untuk saya di meja, setelah Shalat Maghrib saya baru “ngeh” ada berita lain selain Manohara dan Mbak Prita yang membuat saya penasaran, yaitu berita tewasnya “jagoan” idola saya sewaktu kecil Mr. Kwai Chang Caine dari serial Kung Fu.
Pagi-pagi sekali sudah harus berangkat ke tempat yang tidak semestinya dikunjungi sebenarnya, tetapi karena kepentingan DARURAT akibat perlakuan semena-mena dan sepihak dari sebuah pihak sebut saja PT.XXX (bahaya kalo disebut, nggak sanggup nyewa pengacara…) jadilah kunjungan tidak penting tapi jadi penting banget ini dijalani (???).
Sesampainya di lokasi masalah pun tidak bisa terselesaikan, hanya meninggalkan masalah yang bertambah bahkan ada bonus “masalah” plus-plus yang dibebankan untuk sesuatu yang benar-benar tidak dilakukan. Ingin meledak rasanya, tapi hati ini entah kenapa berkata lain untuk berusaha sabar, nggak tega rasanya marahin mbak-mbak yang mungkin memang cuma menjalankan “tuntutan perusahaan” untuk memberikan pelayanan yang “muter-muter”. Intinya aneh benar memang sebuah perusahaan besar tidak berani menghadapi masalah “face to face”, tetapi hanya berlindung di balik kedok “costumer service” yang hanya bisa bilang “Maaf Pak, kami tidak tahu untuk masalah itu… karena itu urusan bagian XXX…”
sungguh hebat, dan ingin tertawa rasanya… baru sadar kalau memang untuk masalah seperti ini ya ternyata sudah di-setting seperti ini agar konsumen yang dirugikan seperti saya tidak bisa berbuat apa-apa.





