Andri adalah seorang fotografer muda handal dan sukses, berbekal kecintaannya terhadap fotografi ia bisa membangun sebuah biro advertising dan fotografi yang disegani rekan-rekan seprofesinya. Andri muda mengenal fotografi sejak masih duduk di bangku sma bersama klub fotografi sekolahnya dan sejak sma ini jugalah Andri mengenal Sandra, sebentuk cinta lain Andri. Kecintaan Andri terhadap Sandra memang tidak bisa disamakan dengan kecintaannya terhadap fotografi yang menurut teman-temannya sangat berlebihan. Tetapi memang tidak banyak yang memahami bahwa kecintaannya terhadap Sandra meskipun tidak terlihat seperti romansa kebanyakan adalah sebuah cinta yang seutuhnya, sederhana.
Sandra di sisi lain adalah bidadari yang memang diciptakan Tuhan untuk Andri, kecantikannya tidak mengharapkan bualan bahkan keromantisan, Sandra dengan kerendahan hatinya menerima Andri yang dingin apa adanya. Semenjak masa sma mereka bersama menjadi bukti cinta yang sampai sekarang bertahan dan kini dalam manisnya rumah tangga. Ya, Andri dan Sandra menikah setelah 8 tahun bersama.
Kesibukan Andri dan Sandra memang membuat keduanya jarang bersama dalam waktu yang lama. Tidak ada yang salah dengan keluarga ini selain kurangnya waktu bersama, cinta keduanya tidak tersentuh hal sesepele itu, setidaknya bagi mereka. Aneh memang, tetapi cinta memang tidak mudah dipahami teman. Karena bagi mereka cinta bukan untuk dipahami, tetapi untuk dinikmati.
Keseharian Andri dihabiskan bersama rekan-rekannya di perusahaan kecilnya. Meski sudah memiliki banyak anak buah dan asisten sendiri tetapi untuk urusan “picture capturing” Andri tetap melakukannya sendiri, dia tidak bisa dan tidak akan pernah mempercayakan hal ini kepada orang lain. Andri memang membentuk perusahaan ini bukan untuk menjadi “BOS” tetapi untuk selalu bisa menyalurkan hasrat fotografinya, jadi memang hanya ada satu fotografer dominan di perusahaan ini, yaitu Andri.
Sandra sendiri menikmati kesehariannya sebagai seorang dokter dan istri yang mandiri, belum adanya kehadiran buah hati dalam kehidupan Andri dan Sandra memang membuat konsentrasi keduanya belum teralihkan dari pekerjaan mereka masing-masing. Sandra bertugas di sebuah Rumah Sakit sebagai dokter jaga, tetapi memang tidak seperti Andri yang biasa bekerja “24/7″, Sandra sebenarnya selalu memiliki waktu yang luang pada akhir pekan untuk mereka bisa bersama.
Seperti akhir pekan minggu ini, momen ulang tahun pernikahan yang sudah jauh hari mereka rencanakan justru tidak pernah terjadi.
Andri terjebak pada jadwal “capturing”nya di luar kota, sedangkan Sandra harus menggantikan jadwal jaga rekan sejawatnya yang berhalangan. Meski keduanya berjanji akan sesegera mungkin untuk kembali ke rumah.
Hujan deras sekali lagi menerjang ibukota, musim di Indonesia sekarang sudah semakin tidak jelas, hujan badai disertai petir rasanya sudah tidak lagi menjadi momok bagi sebagian orang karena begitu seringnya terjadi. Saat itu dentang jam berbunyi 12 kali tepat tengah malam, Andri dengan perasaan gelisah mendapati istrinya terbaring sendiri di tempat tidur dengan gaun putih indah pemberian Andri saat masih berpacaran dulu. Air mata Andri tidak kuasa mengalir saat menyadari istrinya masih tersenyum di dalam tidurnya, dan menggenggam setangkai Anggrek putih langka yang biasa Andri siapkan untuk Sandra setiap akhir pekan. Ingin rasanya Andri memeluk Sandra tetapi apa daya, melihat Sandra yang begitu letih tergulai tak kuasa Andri meraihnya…
















