…
Keesokkan harinya, pada sepertiga malam Andri baru tiba, ia kembali mendapati istrinya sudah terlelap dalam tidurnya, tetapi kali ini raut wajah Sandra ia dapati begitu kelam dan letih. Kali ini Andri kembali tidak kuasa meraihnya.
Hari-hari pun semakin berlalu dan sejak gagalnya acara mereka saat itu justru Andri kini yang merasakan kehampaan dalam hubungannya dengan Sandra. Hampir setiap malam Andri pulang, ia selalu mendapati istrinya sudah terlelap dalam tidur, dan semakin hari semakin terlihat raut kelam yang tidak pernah ia dapati sebelumnya selama mengenal Sandra. Karenanya Andri sudah berniat untuk memberikan kejutan untuk Sandra pada ulang tahunnya akhir pekan ini. Kali ini harus lebih baik.
Hari yang dinanti pun akhirnya tiba, segala persiapan surprise party sudah dipersiapkan oleh keluarga dan teman-teman Sandra yang juga teman Andri. Waktu menunjukkan pukul 10 malam, tidak seperti biasanya Sandra belum tiba. Cuaca di luar apartemen memang kurang bersahabat, hujan deras yang tak kunjung mereda merebakan keresahan pada semua orang yang menanti, termasuk Andri yang menyendiri di sudut ruangan menatapi hujan dari balik jendela. Sebuah kamera DSLR kesayangan sudah siap dalam sandangan Andri, rencananya ia akan abadikan senyuman pertama Sandra kali ini setelah lama tidak ia dapati.
11.47 waktu kini tertera. Akhirnya pintu itu terbuka, “SURPRISE!!!“. Sandra yang tidak menyadari kehadiran keluarga dan teman-temannya begitu terharu dan sempat tersenyum sesaat sebelum akhirnya beralih pada aliran air mata yang begitu deras. Dipeluknya kedua ayah dan bunda yang selalu berusaha tersenyum menghiburnya, teman-teman Sandra pun bergantian menghampirinya dan memberikan selamat. Suasana menjadi agak canggung karena Sandra justru menjadi begitu dalam menampakan kesedihan. Sementara Andri, tidak bisa bergerak dari ujung ruangan menatapi Sandra yang ternyata begitu larut dalam kesedihan. Diletakkannya kamera yang ia genggam tadi di atas meja, lalu Andri beranjak untuk menghampiri Sandra. Baru dua langkah tercapai, langkahnya terhenti. Andri terpaku menatap Sandra yang menangis tersedu sambil memeluk sebuah figura foto, yang ia sadari adalah foto mereka berdua.
Beberapa kali terulang dari mulut Sandra mengisakkan kata “Tolong Sandra Ma, Sandra kangen Andri… Sandra butuh Andri Ma…”
Suasana pun semakin senyap di sekeliling Andri, dingin rasanya menyadari apa yang terjadi. Andri mulai merasakan kehadirannya sedikit demi sedikit mulai pudar, butuh waktu yang lama untuk menyadarkan Andri bahwa dirinya telah tiada. Sehari sebelum malam ulang tahun pernikahan mereka saat itu adalah saat terakhir mereka bersama, kecelakaan tragis menimpa Andri sepulangnya ia dari luar kota. Sampai di malam ini akhirnya Andri bisa begitu tenang untuk pergi, setelah tersadar bahwa cintanya abadi bersama Sandra.
Sandra terbangkit dari isaknya, tertegun pada kamera kesayangan Andri yang tergeletak di atas meja di pojok ruangan. Diambilnya kamera itu dan diamatinya “preview” yang aktif di belakang kamera. Sesaat itu pula Sandra tersenyum, ia sadari Andri ada disini untuk “mengambil” senyumnya yang telah hilang sekian lama.
“Ini aku Andri, akan selalu tersenyum untukmu” ucap Sandra dalam hati.
-end-
















