Pagi ini dalam perjalanan menuju tempat kerja ada pelajaran berharga buat saya, yang mungkin bukan pelajaran baru tetapi memang dasar manusia, sudah kodratnya untuk selalu diingatkan. Dan sekali lagi saya ter”usik”!
Sebuah radio lokal agamais yang memang terkadang menemani saya bila sudah dalam area Depok, maklum namanya juga radio lokal (Bogor dan sekitarnya) maka bila sudah berada di area Jakarta sinyalnya kalah dengan “Hingar-Bingar” kehidupan kota. (Sekali lagi duniawi mengambil alih – Astaghfirullah!)
Untungnya siaran kali ini masih dalam radius depok
dan kali ini adalah sebuah renungan kecil yang mengambil judul “Sahabat”, sebuah pembahasan yang umum dan menarik buat saya sang awam. Dikemas dalam pembahasan yang santai tetapi masih dalam kemasan agama yang manis, membuat saya cukup serius menyimaknya. Dan saya percaya kalau ini patut untuk saya share…
Pesan utama dalam kisah ini sederhana, yaitu bagaimana menjadi sahabat yang baik atau mungkin juga mengetahui apakah sahabat anda (atau setidaknya yang anda anggap sahabat selama ini) benarlah sahabat yang baik. Sederhananya sahabat yang baik adalah sahabat yang selalu jujur apa adanya, sahabat yang berkata “benar” bila memang yang kita kerjakan itu benar (menurut agama dan hukum) dan tidak ragu berkata itu “salah” bila yang yang kita kerjakan jauh dari kebenaran sedikit apapun itu.
Sederhana bukan?! saya yakin semua juga sudah paham akan
hal ini, tetapi saya juga percaya kalau kita manusia biasanya melupakan hal yang sederhana seperti ini. Alasannya standar nikmat, kenyamanan dalam persahabatan sudah cukup “menyamankan” sehingga bila terlalu jujur maka akan merusak semuanya. Well, you choose what best for you?!
So, sudahkah anda mempunyai sahabat yang baik atau menjadi sahabat yang baik?
-Semoga puasa kita tidak hanya untuk urusan perut, tetapi juga nurani. Amin.
















