Kalau ditanya tentang binatang terpopuler di Indonesia sekarang saya yakin kebanyakan akan menyebutkan 2 binatang yang “bentuk”nya bisa dibilang ada kemiripan tetapi berbeda ukuran… Ya, CICAK dan BUAYA.
Kredibilitas Hukum di Indonesia memang sedang diuji, entah mau dibawa kemana arahnya perseteruan antara dua institusi Besar “Penegak Hukum” ini memang begitu banyak menyita perhatian publik, bahkan persaingan antar pendukungnya pun mulai “memanas”.
Saya pribadi mulai khawatir dengan kondisi emosi masing-masing pendukungnya. Seorang teman menuliskan “Status Facebook”nya dengan perasaan yang mungkin sama dengan saya… Kira-kira isinya seperti ini:
“Karena perasaan emosional pribadi, ada saja orang yang menuliskan statusnya (di FB) tanpa OTAK, sehingga bisa menyakiti hati tidak hanya seorang tetapi secara institusi keseluruhan…”
Mungkin pendapat dia sama dengan saya, bahwa berhakkah kita menghakimi sebuah institusi secara keseluruhan? Terlepas dari siapapun yang salah. Lagipula apakah kita sendiri paham duduk perkaranya sehingga berhak menjudge dengan begitu “tajam”nya?!
Jujur saya sendiri sekarang berat sebelah… Saya dengan bangga mendukung “CICAK” untuk terus maju! Tetapi saya juga sangat bangga kalau “BUAYA” juga mau serius…
Indonesia perlu hati-hati, emosi yang berlebihan bisa jadi bumbu perpecahan yang paling sedap! Ingat kalau bangsa kita paling rentan dipecah dari “dalam”. Saya selalu bilang ke istri saya, kl negara kita lucu… Kl masalah “duit” kita bisa saja bercerai, tetapi kl dihina negara lain kita bersatu… (Saya yakin sebagian publik “negara tetangga” yg ekstrimis sedang mentertawakan kita sekarang).
Menurut saya sih jangan sampai kita menghakimi secara keseluruhan, berfikir positif kalau ini adalah kerjaan “oknum” yang memang perusak yang gak betah Indonesia tenang, dan selama ini memang menggerogoti diam2… Saya yakin Pak Bibit-pun nggak setuju kalau pendukungnya “menyakiti hati institusi lawannya secara keseluruhan” mengingat anak beliau adalah seorang Kapolres ya kl nggak salah?!
Jangan karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Jangan karena sakit hatinya, POLRI tidak lagi menjadi POLRI, TETAPI HANYA “POLISI” tanpa “RI”. Tidak semua orang baik, jadi sebaliknya pun begitu tidak semua orang jahat. Mengaca pada diri sendiri saya rasa bisa meredam suasana. (Lagian kan memang sudah ada yang tau PASTI siapa yang salah?!)
Maju terus KPK-ku, semakin baik POLRI-ku (dan Kejaksaan-ku). Maju terus Indonesiaku.
-Indonesia Unite-
















