yang ngerasa punya status ini #Jempol!!!
“Sayang, aku boleh peluk kamu ga? | Ga boleh, aku aja yg peluk kamu | Ih, aku aja! | Aku aja! | Aku! | Aku! | Oke, kita putus!”
buku catatan dokter gigi keliling
Galau Nite @metrotv @asepsuaji #boljug # statusku
yang ngerasa punya status ini #Jempol!!!
“Sayang, aku boleh peluk kamu ga? | Ga boleh, aku aja yg peluk kamu | Ih, aku aja! | Aku aja! | Aku! | Aku! | Oke, kita putus!”
saya suka sekali tulisan di yahoo.com (blog) oleh Fajar Anugrah Putra. Bagusssss #pakTinoSidin
Ya, jika saya menjadi seorang anggota DPD RI atau seseorang yang mewakili banyak orang maka kepentingan semua yang mengarah pada kebaikanlah yang diutamakan. BUKAN kepentingan menurut saya atau apalagi kepentingan kelompok atau golongan yang saya anut.
Sebagai seorang anggota DPD RI jika saya menjadi salah seorang di dalamnya, tentunya akan lebih mudah jika mengerjakan apa yang terlihat dan mau bersungguh-sungguh membangun daerah, karena tidak perlu menjadi anggota dewan untuk bisa menilai kualitas transportasi umum yang buruk, kebersihan lingkungan yang memprihatinkan, belum lagi permasalahan pendidikan dan kesehatan yang buruk. Yang menjadi permasalahan adalah jika menjadi anggota dewan di Indonesia seperti DPD RI adalah seseorang menjadi repot menstrategikan posisinya untuk kepentingan pribadi dan golongan saja, repot mengatur jatah titipan proyek ini itu, repot membuat kebijakan untuk sekedar mendapatkan jatah perundangan, dan banyak lainnya. Bukankah teorinya mudah, lanjutkan kebijakan yang baik dan perbaiki kebijakan yang salah dengan demikian maka bukankah pembangunan akan terus berkelanjutan dan masukan kepada pemerintah daerah akan menjamin pada prioritas kepentingan kemajuan daerah.