Thanks To my sejawat drg. Army R. Masih ada nih beberapa kenangan saat dan setelah tugas di Kecamatan Kalumpang, Provinsi Sulawesi Barat.
Posts Tagged ‘Puskesmas’
Setelah perjalanan melelahkan berburu forcep atau tang gigi dan peralatan dokter gigi lainnya kemarin, akhirnya hari ini saya bisa memulai tindakan yang semestinya
hehehe…
Pasien hari ini memang tidak banyak (banyak disini paling 5-7 pasien, maklum temans… di desa terpencil seperti ini akses sangat sulit), karena memang selain belum semua dari masyarakat yang tahu bahwa akhirnya alat-alat dokter giginya sudah tersedia, mungkin sebagian juga terlanjur kecewa lantaran pada saat pertama mereka datang saat itu pelayanan giginya terpaksa ditiadakan. Padahal asal kalian tahu teman, area cakupan puskesmas kami cukup luas untuk ukuran puskesmas yang di-ter-abaikan ini, dan kurang mumpuni ini. Sebagian terpisahkan muara sungai dan anak-anaknya yang cukup rawan (buaya disini gawat kawan, nanti saya ceritakan di kesempatan lain), sebagian terpisahkan rawa-rawa, dan hutan yang nantinya setelah beberapa bulan di puskesmas ini saya baru sadar, “Lho ini masih daerah pelayanan puskesmas Polocamba?!”.
Setelah hampir 2 (dua) minggu berperan sebagai “Mantri” akhirnya rekan saya si Dokter Umum sesungguhnya tiba juga di puskesmas kami. Seru, rekan saya membawa serta orang tuanya dan seorang pembantu rumah tangga untuk menemani dia tinggal sementara di Puskesmas kami. Bertambahnya jumlah “personil” di puskesmas ini sudah saya perkirakan bakal menambah “keseruan” lain di lingkungan yang tadinya “mati” ini. Sederhananya buat saya, “Asyik Rame!!!” Hehehehe… Dan pastinya terlepas dari jabatan sementara saya sebagai “mantri”
Kesempatan ini saya gunakan untuk meminta izin kepada kepala puskesmas agar saya bisa kembali ke kota untuk beberapa hari, bukan karena ingin kabur, tetapi agar saya bisa mengurus pengadaan alat kedokteran gigi di puskesmas. Dan satu-satunya cara adalah dengan menghadap langsung Kepala Dinas Kesehatan Propinsi tempat saya bertugas.
Hari itu adalah sehari setelah semalaman hujan angin yang kencang, sehingga malam itu dipenuhi dengan kegelisahan yang sangat. Aneh, hujan seperti semalam semestinya disertai petir. Tetapi justru hanya angin kencang yang mendominasi menyambar-nyambar ranting pepohonan dan tembok darurat di kamar saya yang dibuat dengan seng dan papan triplek sehingga menimbulkan suara yang sangat gaduh.
Pagi hari ini, kali pertama saya bertugas di puskesmas. Setidaknya itu yang awalnya saya bayangkan. Tetapi ternyata hari ini saya belum bisa melakukan apa-apa juga… Karena sungguh aneh kenapa kepala dinas menugaskan saya ke tempat yang sama sekali tidak memiliki peralatan pendukung dokter gigi. Helloowww…???
Sungguh tepat sekali rasanya peribahasa “sudah jatuh tertimpa tangga pula” disematkan kepada saya.
Bagaimana tidak, mendapati bahwa puskesmas tempat saya bertugas adalah salah satu puskesmas ter-Asing di Provinsi ini, dan puskesmas ini cuma pernah dijamah oleh 2 dokter sebelumnya, meski menurut cerita pernah ada dokter wanita yang bertugas disini dan sang dokter membawa serta keluarganya untuk tinggal di rumah dinas yang disediakan tetapi yang terjadi malah mereka “minggat” tanpa sebab di hari ke-2 bertugas di puskesmas ini! Jadi dokter yang satu ini tidak dalam hitungan saya.
Sesuatu itu tampaknya dekat sekali dengan wajah saya! Tetapi karena sangat gelapnya suasana kamar ini, membuat saya tetap tidak bisa menatapnya kembali meski saya berusaha terus mencari-cari apa gerangan yang “mengganggu” saya itu. Meski pada akhirnya saya menyesal telah begitu ingin tahu!
Bayangan-bayangan sekelebat terus menerus “mondar-mandir” di dalam kamar yg paling cuma 6 meter persegi ini. Sesekali menyibakkan gorden kamar yang memang sebenarnya cuma menutup 2/3 dari jendela yg tdk bisa tertutup rapat di kamar ini.
Hampir 2 bulan penuh saya diuji, Kejadian demi kejadian aneh-pun mulai saya alami sejak kedatangan saya di Puskesmas ini. Meski mulanya biasa saja…
Hanya semalam menempati rumah suster keesokan harinya Ibu KaPus tiba di Puskesmas (mungkin baru diberitahu pihak dinkes kalau ada dokter yang datang), dan Kepala Puskesmas mungkin karena perasaan tidak enak dengan saya langsung menawarkan untuk tinggal sementara di rumahnya.







